Sukabumi — Kegiatan Khataman ke-3, Tawasul, dan Kajian Online yang diselenggarakan oleh LAKPESDAM PCNU Kabupaten Sukabumi bersama Lensa Sukabumi dan Rumah Perempuan dan Anak Sukabumi (RPAS) berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme pada Sabtu malam (14/03/2026). Mengusung tema “Sejarah Islam di Jawa Barat”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan nilai keislaman bagi para peserta.
Acara diawali dengan rangkaian khataman Al-Qur’an ke-3 yang merupakan hasil dari komitmen bersama para peserta dalam menyelesaikan tadarus selama bulan Ramadan. Momentum ini menjadi bukti semangat kolektif dalam meningkatkan ibadah dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Ketua LAKPESDAM PCNU Kabupaten Sukabumi, Kang Daden Sukendar, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh peserta. Ia menuturkan bahwa terselenggaranya khataman ke-3 ini tidak lepas dari kesungguhan dan keistiqomahan para peserta dalam menyelesaikan tadarus.
“Terima kasih kepada semua yang sudah menyelesaikan tadarusnya, sehingga khataman ke-3 ini bisa kita laksanakan bersama. Ini adalah bentuk kebersamaan yang luar biasa dan semoga menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kang Daden juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam ibadah, tidak hanya di momentum Ramadan saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang terus dibaca, dipahami, dan diamalkan.
“Jangan berhenti di khataman ini saja. Justru ini harus menjadi awal untuk kita lebih dekat dengan Al-Qur’an. Semoga kebiasaan baik ini terus kita jaga, bahkan setelah Ramadan usai. Karena sejatinya, yang kita bangun bukan hanya kegiatan, tetapi karakter dan kedekatan kita dengan Allah SWT,” tambahnya.
Sementara itu, kajian utama disampaikan oleh Pak Omay selaku pemateri. Dalam penyampaiannya, beliau mengupas perjalanan sejarah Islam di Jawa Barat dengan pendekatan yang ringan namun mendalam. Ia menjelaskan bagaimana proses penyebaran Islam di tanah Sunda tidak terlepas dari peran para ulama dan pendekatan budaya yang damai.
Menurutnya, keberhasilan dakwah Islam di Jawa Barat tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh hikmah. Para ulama terdahulu mampu menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang lembut, menyatu dengan budaya lokal, serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Sejarah mengajarkan kita bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang menyentuh hati, bukan yang memaksa. Para ulama dahulu hadir di tengah masyarakat, memahami kondisi mereka, lalu menyampaikan Islam dengan penuh kasih sayang,” jelasnya.
Pak Omay juga mengingatkan bahwa generasi saat ini memiliki tantangan yang berbeda, terutama di era digital yang penuh dengan arus informasi. Oleh karena itu, diperlukan kebijaksanaan dalam berdakwah serta kemampuan untuk tetap menjaga nilai-nilai keislaman di tengah perubahan zaman.
“Kita hari ini punya tantangan yang tidak ringan. Tapi kita juga punya peluang besar untuk berdakwah melalui berbagai media. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga akhlak, menjaga niat, dan menyampaikan kebaikan dengan cara yang santun,” ungkapnya.
Ia pun mengajak para peserta untuk tidak hanya memahami sejarah sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Belajar sejarah bukan hanya untuk tahu masa lalu, tapi untuk menuntun langkah kita ke depan. Semoga kita bisa mengambil teladan dari para ulama dan menjadi bagian dari generasi yang membawa kebaikan di lingkungan masing-masing,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat belajar, bertumbuh, dan berdampak dapat terus terjaga, sejalan dengan tema yang diusung: “Sebelum Tunduh Kita Bertumbuh.”