Sukabumi – Semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama kembali ditunjukkan di Kecamatan Cicurug melalui kegiatan buka puasa lintas agama yang digelar oleh Badan Koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (BaKor FKUB) Cicurug, Sabtu (14/03/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 17.00 WIB ini bertempat di Saung GOR DOUBLE D, Kampung Neglasari, Desa Purwasari. Acara ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi serta memperkuat nilai moderasi beragama menjelang bulan kemenangan.
Dihadiri Tokoh Lintas Agama dan Unsur Pemerintah
Buka puasa bersama ini dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama dan unsur masyarakat. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua BaKor FKUB Cicurug Ust. Azis, perwakilan dari GKI seperti P. Simon dan SQ, perwakilan GGP-ELOHIM Palti Simbolon dan Stefanus S, tokoh Buddhis Pak Toto, serta para kiai dan asatidz, di antaranya Kiai Amil (Ust. Ismatullah).
Kehadiran para tokoh ini menjadi simbol kuat bahwa keberagaman di Cicurug dapat dirawat melalui dialog, silaturahmi, dan kebersamaan.
Misi Merajut Kebersamaan dan Toleransi
Ketua BaKor FKUB Cicurug, Ust. Azis, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan bagian dari upaya nyata untuk memperkuat kerukunan umat beragama di Cicurug.
“Ini bukan hanya tentang makan bersama, tetapi bagaimana kita membangun kebersamaan, saling memahami, dan menjaga harmoni di tengah keberagaman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Kiai Amil (Ust. Ismatullah) yang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa buka puasa lintas agama ini merupakan wujud nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
“Ini adalah gambaran indah bagaimana perbedaan tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi,” ungkapnya.
Pesan Kebijaksanaan dari Tokoh Buddhis
Menariknya, dalam kesempatan tersebut tokoh Buddhis Pak Toto turut menyampaikan pesan kebijaksanaan dengan mengutip ajaran Niciren Daisyonin. Ia mengibaratkan makanan sebagai sumber kehidupan bagi jiwa.
“Jiwa bagaikan pelita dan makanan adalah minyaknya. Tanpa makanan, jiwa tidak dapat bertahan hidup. Maka makanan adalah hal yang penting untuk menjaga kehidupan,” tuturnya, diakhiri dengan salam khas “Nammyohorengekyo”.
Harmoni dalam Perbedaan
Meski peserta berasal dari latar belakang agama yang berbeda—sebagian menjalankan ibadah puasa dan sebagian tidak—suasana tetap hangat dan penuh kekeluargaan. Nilai kebersamaan tercermin dalam semangat “mangan ora mangan asal ngumpul” yang menjadi perekat sosial masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga harmonisasi dan toleransi antarumat beragama di Cicurug, sekaligus menjadi contoh positif bagi daerah lain dalam merawat keberagaman.